Menyikapi kondisi yang dinilainya sudah mengkhawatirkan itu, Firman Sikumbang tidak memilih diam. Di hadapan Bundo Kanduang Forum Komunikasi Anak Nagari Sumatera Barat, ia menyuarakan kegelisahan yang meledak-ledak.Sumbar sedang berada di ambang krisis moral.
Firman secara tegas menginstruksikan agar Bundo Kanduang turun langsung ke tengah masyarakat, meninggalkan ruang-ruang seremonial, dan hadir di lorong-lorong sosial yang kini mulai gelap oleh prostitusi, narkotika, dan penyimpangan perilaku.
“Kalau Bundo Kanduang diam, siapa lagi yang akan menjaga rumah gadang ini? Kalau limpapeh rumah nan gadang roboh, hancurlah seluruh isi rumah,” tegas Firman dengan nada keras.
Ia menekankan bahwa peran Bundo Kanduang bukan sekadar simbol adat, melainkan benteng terakhir penjaga moral generasi Minangkabau. Menurutnya, pembiaran terhadap pergaulan bebas, penyalahgunaan narkotika, dan penyimpangan perilaku adalah pengkhianatan terhadap nilai adat dan agama.
Firman juga mengingatkan para orang tua agar tidak lengah terhadap anak-anak mereka. Ia menyoroti lemahnya pengawasan keluarga, maraknya penggunaan gawai tanpa kontrol, serta lingkungan sosial yang semakin liar sebagai pintu masuk rusaknya akhlak generasi muda.
“Kita sibuk mencari makan, sibuk dengan urusan dunia, tapi lupa menjaga anak. Akibatnya, anak-anak kita dibesarkan oleh layar ponsel dan pergaulan bebas, bukan oleh nilai adat dan agama,” katanya lantang.
Tak berhenti di situ, Firman memastikan akan mengumpulkan niniak mamak delapan suku untuk duduk satu meja, membahas secara serius kondisi moral urang awak yang kian tergerus zaman. Ia menegaskan, persoalan ini bukan isu kecil, melainkan ancaman langsung terhadap jati diri Minangkabau.
“Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah hari ini hanya terdengar di pidato-pidato. Kalau kita terus membisu, maka adat akan tinggal slogan, dan Minangkabau kehilangan ruhnya,” lanjut Firman.
Di akhir pernyataannya, Firman memperingatkan bahwa sejarah tidak akan memaafkan generasi hari ini jika membiarkan kerusakan moral tumbuh subur di ranah Minang.
“Ini bukan soal benci atau tidak benci. Ini soal menyelamatkan generasi. Kalau kita gagal hari ini, anak cucu kita yang akan menanggung akibatnya,” tutupnya.(**)

No comments:
Post a Comment